Pembongkaran Kolam Japung Diwarnai Terbakarnya Tiga Perahu

ASAP mengepul dari perahu yang diduga disengaja dibakar oknum tak dikenal di sela upaya penertiban kolam jaring apung di kawasan Waduk Cirata, Maleber, Kecamatan Cikalongkulon, Cianjur. Magnet Indonesia Online/M Najib

CIANJUR | MAGNETINDONESIA.CO – Penertiban kolam jaring apung di perairan waduk Cirata di Desa Kamurang, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, sempat diwarnai terbakarnya tiga perahu, Kamis (19/7/2018).

Belum diketahui persis penyebab terbakarnya tiga perahu yang berada di tengah perairan itu. Namun insiden itu diduga akibat kemarahan sejumlah petani japung saat petugas Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC) akan menertibkan kolam ikan milik mereka. Bahkan, sempat terjadi aksi protes lantaran pembongkaran tersebut tidak memenuhi prosedur.

“Kami protes karena ada beberapa poin yang dilanggar BPWC. Salah satunya harus mengutamakan warga pribumi. Kami ini warga pribumi,” kata Jajang, petani jaring apung.

Di tengah kekisruhan itu diduga ada oknum yang memanfaatkan situasi dengan menggunakan sisa-sisa jaring yang sudah dibongkar. Ditambah saat pembongkaran tidak ada sosialisasi terlebih dulu.

“Salah satu contohnya, ada kolam di bawah 5 unit masih aktif, tapi tetap dibongkar. Padahal dalam aturannya sudah jelas petani japung dibatasi hanya bisa mempunyai 5 unit,” ungkapnya.

Emus (30), petani Japung lainnya, mengaku kolamnya menjadi target operasi BPWC. Kolamnya langsung dieksekusi pihak ketiga.

“Padahal saya asli warga Maleber. Dulu orangtua saya punya rumah di sekitaran Maleber yang sekarang terendam. Pertanyaan saya, kenapa kolam sebanyak empat unit harus ikut dibongkar?,” tegasnya.

Ia menilai petugas BPWC terlalu arogan. Mereka tak memberikan toleransi sedikit pun.

“Kolam saya semuanya ada ikannya. Tapi tetap saja digusur,” tuturnya.

Ironisnya lagi, Emus mengaku dipaksa harus membayar biaya penggusuran sebesar Rp2 juta. Namun karena tak memiliki uang, Emus menjual material kolam.

Komandan Sektor 12, Kolonel Satriyono, mengatakan kejadian ini hanya dipicu miskomunikasi antara petani ikan dan petugas. Ia menduga ada pihak lain yang berupaya menumpangi untuk bertindak anarkistis.

“Pelaku pembakaran perahu belum ketemu orangnya. Bisa jadi orang luar,” jelas dia.

Ia mengaku komunikasi dengan masyarakat sudah sedemikian baik. Bahkan tak sedikit di antara petani japung mendukung program penggusuran.

“Kemungkinan ada yang mau memanfaatkan situasi,” tandasnya.

Kontributor:  M Najib
Editor:  Bondan Prakoso