Nama Jalan Asmin Sucipta di Cianjur Memiliki Sejarah Panjang

NAMA pahlawan Asmin Sucipta di Kabupaten Cianjur diabadikan jadi tugu yang saat ini kondisinya rusak akibat ulah tangan jahil. M Najib

CIANJUR | MAGNETINDONESIA.CO – Tugu A Sucipta mulai dibangun November 2017 lalu. Pembangunannya merupakan kerja sama antara Historika, sebuah lembaga kesejarahan, dan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pembangunan tugu itu bukan tanpa alasan. Tujuannya sebagai upaya mengedukasi masyarakat menyangkut nama jalan yang diambil dari nama pahlawan. Penjelasan menyangkut sejarahnya sudah berbasis barcode.

Di Kabupaten Cianjur sendiri banyak nama pahlawan yang dijadikan nama jalan. Selain Jalan Asmin Sucipta (Adi Sucipta), Jalan Cicih Wiarsih, Jalan Mayor Harun Kabir, Jalan Pangeran Hidayatullah, Jalan Suroso, dan Jalan Aria Cikondang.

Direktur Eksekutif Historika, Abdul Basith, mengatakan tugu A Sucipta tersebut memang penting untuk memberikan penjelasan dan informasi terkait nama jalan dan tokoh pahlawan. Terlebih dibangunnya di pusat perkotaan Cianjur dan sekarang sudah menjadi nama jalan. Bahkan sebagian besar masyarakat Cianjur menganggap nama itu diambil dari salah seorang pionir Angkatan Udara Republik Indonesia, Adi Sucipto. Namun anggapan itu ternyata sangat keliru.

“Sebagai lembaga yang bergerak di bidang kesejarahan, beberapa tahun lalu Historika Indonesia telah memulai penelitian untuk mencari informasi mengenai siapa di balik nama jalan tersebut. Beberapa dokumen sejarah kami pelajari dan beberapa nara sumber kami datangi. Setelah melakukan penelusuran tersebut, barulah kami tahu ternyata yang dimaksud Adi Sucipta itu adalah Asmin Sucipta (ejaan lama: Asmien Soetjipta),” ujar Abdul Basith, Senin (23/7/2018).

Ia menyebutkan, Asmien Soetjipta tak lain adalah sniper (penembak runduk) legendaris yang tergabung dalam Laspo (Lasykar Pesindo, Pemuda Sosialis Indonesia) yang berjuang di Cianjur pada 1945-1948. Menurut Abdul, dua anak buah Asmine Soetjipta yang masih hidup serta Mahkun Soetjipta (salah satu putra Asmien Soetjipta). Awalnya Asmien adalah guru SMP.

“Karena pada saat itu tuntutan revolusi, maka ia kadi komandan perang yang memiliki keahlian membidik musuh secara jitu. Pada zamannya, dia adalah hantu yang menakutkan bagi serdadu Inggris dan tentara Belanda di Cianjur, karena aksinya banyak memakan korban jiwa,” pungkasnya.

KontributorM Najib
EditorBondan Prakoso