Sungai Cihaur Meluap, 20 Hektare Sawah di Desa Cimaja Terendam Air Bah

PULUHAN hektare sawah di Kampung Cimaja Girang, Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, terendam air banjir. Foto: Magnet Indonesia/Agris Suseno

SUKABUMI | MAGNETINDONESIA.CO – Puluhan hektare sawah di Kampung Cimaja Girang, Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, terendam air yang berasal dari luapan Sungai Cihaur saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut, Senin (8/6/2020) sekitar 17.00 WIB.

Berdasarkan informasi, hujan deras di wilayah Kecamatan Cikakak dan sekitarnya yang terjadi sekitar pukul 15.00 WIB itu berlangsung cukup lama. Bersamaan hujan turun, Sungai Cihaur yang berdekatan dengan areal persawahan milik warga setempat itu pun tak mampu menampung debit air yang cukup deras. Sehingga sungai meluap kemudian merendam areal persawahan dengan ketinggian air sekitar 2 meter. Lokasi banjir tak jauh dari kantor Desa Cimaja.

“Kejadian ini mengakibatkan areal persawahan seluas 20 hektare terendam. Termasuk 500 liter benih ikan nila yang baru ditebar di sawah juga ikut hanyut terbawa air bah,” terang Ade Rabig (50), warga setempat.

Menurut Rabig, air sungai meluap diduga disebabkan kondisi sungai yang sudah mulai mengalami pendangkalan. Ia pun meminta kepada perangkat desa setempat maupun dinas terkait segera melakukan normalisasi sungai agar ke depan tidak terjadi banjir lagi saat hujan turun.

“Hingga pukul 18.30 WIB, kondisi air masih besar dan merendam areal persawahan. Mudah-mudahan air segera surut,” harapnya.

Kepala Desa Cimaja, Wahyu Cakra, menambahkan puluhan hektare sawah di Kampung Cimaja Girang terendam yang disebabkan dari luapan air Sungai Cihaur bukan kali pertama terjadi. Banjir di areal persawahan itu sering terjadi semenjak sungai mengalami pendangkalan.

“Sejak tiga tahun terakhir, banjir sekarang yang paling parah. Ini terjadi karena adanya pendangkalan sungai,” ucap Wahyu, di sela meninjau lokasi banjir.

Ia menyebutkan kejadian bencana banjir ini merendam sawah pascapanen yang sudah ditanami ikan nila, sebagian areal padi sawah siap panen. Padahal, kata Wahyu, belum lama ini sawah yang sudah dipanen telah ditanami sebanyak 500 liter benih ikan nila. Sementara harga benih ikan mencapai Rp60 ribu per liter.

“Jadi, jumlah kerugian untuk benih ikan saja ditaksir sebesar Rp30 juta. Belum padi sawah yang dipastikan gagal panen karena rusak dan hanyut terbawa banjir,” bebernya.

Wahyu mengaku akan berkirim surat ke Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Sukabumi, agar segera melakukan normalisasi Sungai Cihaur karena terjadi pendangkalan.

“Kalau Sungai Cihaur tidak segera dilakukan pengerukan, banjir akan terus terjadi di kampung ini saat hujan deras,” tandasnya.

Kontributor: Agris Suseno
Editor: Hafiz Nurachman