Acara Seren Taun di Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi Selalu Jadi Perhatian Wisatawan

PROSESI upacara adat memasukan padi ke dalam Leuit Si Jimat yang dipimpin Sesepuh Kasepuhan Sinar Resmi, Abah Asep Nugraha, dalam acara Seren Taun ke-440 di Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Minggu (1/9/2019). Foto: Magnet Indonesia/Anugrah

SUKABUMI | MAGNETINDONESIA.CO – Seren Taun di Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, selalu mendapat atensi dari kalangan masyarakat dan wisatawan. Pun tahun ini yang memasuki tahun ke-440, para wisatawan juga sengaja datang ke tempat itu untuk melihat langsung acara syukuran kepada Allah SWT atas hasil bumi.

“Padi yang kami tanam di sini panennya enam bulan sekali. Namun dalam setahun hanya satu kali tanam dan satu kali panen,” kata Sesepuh Kasepuhan Sinar Resmi, Abah Asep Nugraha, kepada magnetindonesia.co, Minggu (1/9/2019)

Seren taun merupakan bentuk syukur nikmat atas kelancaran selama masa tanam hingga panen dari mulai ngagaru (mengolah tanah), ngawaluku (membajak), ngali lobang (menanam padi). Tahun ini padi yang sudah dipanen sudah mencapai 2 ribu pocong (ikat). Padi itu diperoleh dari setiap anak dan cucu. Padi itu selanjutnya disimpan di leuit (lumbung) Si Jimat.

“Satu pocong itu beratnya rata-rata 3 kilogram. Di leuit sendiri kapasitasnya mencapai 3 ribu pocong. Jadi di dalam leuit terdapat sekitar 9 ton padi,” tutur Abah Asep yang merupakan generasi ke-10 di Kasepuhan Sinar Resmi itu.

Hampir di setiap rumah di Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi memiliki leuit. Leuit itu juga menjadi pertanda warga sudah menikah.

“Rata-rata leuit di satu rumah cukup menampung 500-1.000 pocong,” kata dia.

Abah Asep menuturkan setiap warga yang sudah menikah wajib memiliki leuit meskipun tak memiliki sawah. Mereka yang tak memiliki sawah bisa melakukan sistem maparo (menggarap lahan sawah orang lain dengan imbalan hasilnya dibagi dua), kemudian ada ngepak, dan derep.

“Tujuannya untuk pemerataan hasil bumi,” ujarnya.

Padi yang tersimpan di leuit bisa mencapai usia puluhan tahun. Produksi padi yang dihasilkan di Kampung Adat Kasepuhan tidak menggunakan pupuk kimia ataupun pestisida.

“Ada beras yang usianya mencapai 40-50 tahun. Dari segi rasa pasti ada yang berubah dibanding dengan padi baru dipanen. Biasanya padi bisa bertahan 10 tahun tanpa ada perubahan rasa dan aroma,” terangnya.

KontributorAnugrah
EditorSulaeman