Ini Penyebab Terjadinya Cuaca Panas di Kota Sukabumi dan Sekitarnya

AWAN Mendung di Kota Sukabumi bukan berarti akan turun hujan, malah membawa hawa panas. Foto: Magnet Indonesia/Rizky Miftah

SUKABUMI | MAGNETINDONESIA.CO – Beberapa hari terakhir cuaca di Kota Sukabumi yang semula adem berubah drastis menjadi panas. Kondisi tersebut bisa berlangsung selama seharian.

“Entah kenapa, sejak beberapa hari ini cuacanya sangat panas. Bahkan di rumah saya yang biasanya adem, sekarang betul-betul panas hingga malam,” kata Hermawan (33), warga Selabintana, Selasa (12/11/2019).

Selabintana merupakan kawasan yang selama ini dikenal karena kesejukan udaranya. Tapi sejak beberapa hari terakhir berubah drastis menjadi panas, seperti di beberapa daerah lainnya.

(Baca Juga: uhu Udara di Sukabumi dan Sekitarnya Lebih Dingin dari Biasanya, Ini Penyebabnya…)

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi, Zulkarnain Bahrami, menjelaskan fenomena tersebut merupakan hal yang sering terjadi. Kondisi itu akibat proses pembentukan awan sebelum terjadinya hujan.

(Baca Juga: Pemkot Sukabumi Imbau Warga Manfaatkan Medsos Informasikan Bencana)

“Pada proses terjadinya awan mendung ini sebenarnya saat dilepasnya sejumlah panas (kalor) yang ada di bumi ke udara,” ujarnya.

Semakin banyak awan mendung yang terbentuk, maka hawa panas akan semakin terasa karena sifatnya yang hangat. Sepanjang siang, awan tersebut menyerap gelombang pendek dari matahari dan gelombang panjang dari pantulan permukaan bumi.

(Baca Juga: Hujan Deras, Bencana Terjang Dua Desa di Dua Kecamatan)

“Jadi, awan menyimpan banyak kalor dan menyebar ke lingkungan sekitar. Jika tak turun hujan, maka yang terjadi cuaca akan berubah menjadi panas,” ungkapnya.

Namun bukan berarti adanya hawa panas tersebut dipastikan akan turun hujan. Sebab, proses terjadinya hujan bisa saja terganggu beberapa faktor.

“Penyebab gagal hujan bisa disebabkan berbagai faktor seperti stabilitas atmosfer, inti kondensasi, atau angin kencang. Namun jika hujan tersebut gagal, maka panas akan tertahan di lingkungan sekitar. Ini akan bertahan cukup lama sampai prosesnya berulang. Itulah mengapa cuaca saat ini terasa panas,” pungkasnya.

Kontributor:  Rizky Miftah
Editor:  Hafiz Nurachman