Bisa Menyerang Siapa Saja, Kenali Penyakit Epilepsi Lebih Jauh, Yuk!

KEGIATAN seminar dalam rangka memperingati Hari Epilepsi Sedunia di RSUD Palabuhanratu, Senin (12/8/2019). Foto: Magnet Indonesia/Endi Nasrulah

SUKABUMI | MAGNETINDONESIA.CO – Hari Epilepsi Sedunia diperingati RSUD Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi dengan melaksanakan seminar. Kegiatannya diikuti para petugas medis puskesmas di Wilayah IV Palabuhanratu, staf medis di RSUD Palabuhanratu, termasuk dari wilayah Bayah, Banten.

“Jadi, seminar dan sharing ini merupakan bagian memperingati Hari Epilepsi Sedunia yang biasanya diselenggarakan setiap 26 Maret. Kami baru bisa memperingatinya sekarang karena beberapa waktu lalu banyak agenda,” kata Humas RSUD Palabuhanratu, Bili Agustian, Senin (12/8/2019).

Jumlah peserta mencapai 100 orang. Selain staf medis, kegiatan itu juga diikuti pasien maupun keluarga pasien. Tujuannya lebih meningkatkan pemahaman kepada petugas medis dan masyarakat terhadap epilepsi.

“Kami agendakan dilaksanakan secara rutin. Nanti kita evaluasi dari kegiatan ini agar ke depan bisa lebih baik,” tandasnya.

Spesialis Syaraf RSUD Palabuhanratu, dr Inge Anggelia Sigit, Sp.S mengatakan, selama ini masyarakat mengenal epilepsi dengan sebutan ayan. Penyakit tersebut dikategorikan tidak menular. Penyebabnya lebih karena energi listrik pada otak yang terlalu berlebihan.

“Epilepsi bisa menyerang siapa saja. Orang yang sedang diam pun bisa kena epilepsi,” terangnya.

Epilepsi harus dibuktikan dengan pemeriksaan Elektro Ensefalografi (EEG). Pemeriksaan itu jika terjadi kejang pada penderita lebih dari satu hari.

“EEG untuk membuktikan seseorang itu mengidap epilepsi atau tidak. Terus, seberapa berat penyakitnya itu bisa ditangani spesialis syaraf,” jelasnya.

Epilepsi terbagi dua, umum dan vokal. Untuk epilepsi umum, pengidapnya rata-rata usia remaja.

“Hampir 50 persen, epilepsi tak diketahui penyebabnya. Kalau dari genetik (turunan) hanya kisaran 10 persen,” ungkap dia.

Epilepsi bisa disembuhkan asalkan diobati secara teratur. Hal tersebut perlu diwaspadai, penyakit itu bisa kambuh 2-3 tahun berikutnya jika pengidap tak rutin minum obat secara teratur. (adv)

KontributorEndi Nasrulah
EditorEddy Surya Wijaya