Distan Kabupaten Sukabumi Bantu Petani Kembangkan Hanjeli

Foto: Istimewa/Net

SUKABUMI | MAGNETINDONESIA.CO – Sejumlah petani di Kabupaten Sukabumi terus membudidayakan tanaman hanjeli. Hanjeli adalah sejenis tumbuhan biji-bijian tropis dari suku padi-padian dengan nama latin Coix Lacyma. Satu di antaranya dilakukan petani di Desa/Kecamatan Ciracap dan Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran.

Pemkab Sukabumi telah mengadakan bimbingan teknis kepada pelaku UMKM kemasan produk kreatif hanjeli dari dua desa dan kecamatan yang masuk kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu tersebut. Saat ini di Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, terdapat seluas 2 hektare lahan khusus kebun hanjeli.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Dedah Herlina mengatakan, tanaman hanjeli yang dibudidayakan petani merupakan salah satu upaya percepatan diversifikasi pangan alternatif. Caranya dilakukan melalui peningkatan kapasitas produksi pangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal.

Hanjeli, kata dia, diketahui memiliki nilai gizi yang tidak kalah kualitasnya dibanding beras dan jagung serta memiliki kandungan lemak dan protein yang tinggi di antara tanaman serealia lainnya.

“Budi dayanya dilakukan dengan memanfaatkan lahan-lahan tegalan. Kegiatan rintisan ini model pengembangan diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal,” ujar Dedah, Senin (3/12/2018).

Menurutnya, pengembangan diversifikasi pangan berbasis hanjeli ini bisa mengubah pola makan harian masyarakat secara bertahap dari konsumsi nasi ke hanjeli. Hanjeli bisa juga jadi olahan pangan karena memiliki kandungan gizi dan protein yang bagus buat dikonsumsi.

Saat ini, lanjut Dedah, petani hanjeli di dua desa dan kecamatan itu belum mendapatkan sepenuhnya bimbingan dan pembinaan dari Dinas Pertanian. Pasalnya, budi daya hanjeli baru muncul baru-baru ini.

“Tahun depan kita akan genjot petani hanjeli agar produksinya bisa meningkat. Kami juga akan mengembangkan hanjeli di tiap desa lainnya di Kabupaten Sukabumi sebagai model rintisan pengembangan diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal,” tandasnya. (adv)

Reporter:   Yana Suryana
Editor:   Bondan Prakoso