Puluhan Warga Kadudampit Diduga Keracunan Tutut

BUPATI Sukabumi Marwan Hamami, saat menjenguk korban dugaan keracunan tutut. Magnet Indonesia online/Fajar Sidik

SUKABUMI | MAGNETINDONESIA.CO – Puluhan warga Desa Citamiang dan Sukamanis di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, diduga keracunan usai menyantap olahan tutut (keong sawah). Satu orang di antara korban dugaan keracunan itu meregang nyawa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan keracunan massal bermula pada Minggu (22/7/2018). Kala itu mereka membeli tutut dari pedagang keliling. Beberapa jam usai menyantap tutut, satu per satu warga mulai merasakan pusing dan mual. Namun mereka belum menyadari gejala itu diduga keracunan. Mereka pun berupaya mengobati seadanya.

Pada Senin (23/7/2018), salah seorang korban berobat ke puskesmas setempat. Hasil pemeriksaan, korban berinisial T (19) harus dirujuk ke rumah sakit. Namun takdir berkata lain, T akhirnya meninggal dunia pada Selasa (24/7/2018).

Bupati Sukabumi, Marwan Hamami, berkesempatan menjenguk korban, Rabu (25/7/2018). Ia pun mengaku prihatin dengan kejadian tersebut.

“Awalnya kemarin (Selasa) jumlah korban dugaan keracunan sebanyak 52 orang. Hari ini bertambah lagi tiga orang yang datang ke posko kesehatan. Jadi jumlahnya 55 orang. Satu orang meninggal dunia,” kata Marwan.

Warga di dua desa baru memeriksakan diri ke puskesmas setelah mengetahui ada yang meninggal dunia. Aparatur pemerintahan desa setempat masih menyisir warga lainnya yang tidak menutup kemungkinan masih ada yang mengalami gejala serupa.

“Kebanyakan warga menyangka mereka masuk angin. Makanya dari desa menyisir lagi siapa tahu ada warga yang mengalami gejala dugaan keracunan,” terang Marwan.

Marwan menyebut telah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) dalam peristiwa itu. Pertimbangannya didasari jumlah korban cukup banyak dan ada yang meninggal dunia.

“Dua orang yang menjadi keracunan saja sudah KLB. Apalagi ini mencapai puluhan. Dugaan keracunan tutut ini baru kali pertama terjadi. Makanya, kita juga meminta keluarga korban yang meninggal dunia agar jenazahnya diotopsi,” terangnya.

Dengan ditetapkannya status KLB, kata Marwan, maka semua biaya perawatan dan pengobatan korban akan ditanggulangi pemerintah daerah. Marwan mengimbau agar warga lebih berhati-hati memilah dan memilih jenis makanan yang dijual di pasaran.

“Seperti halnya tutut. Lebih baik mengolah sendiri daripada harus membeli. Jangan berhenti makan tutut, tapi lebih bagus diolah sendiri saja,” tandasnya. (adv)

KontributorFajar Sidik
EditorSulaeman