Harga BBM Naik, Perajin Gula Merah Gigit Jari

GULA merah masih menjadi satu di antara komoditas yang banyak dicari di pasaran, termasuk yang diproduksi para perajin di Kecamatan Naringgul Kabupaten Cianjur. Magnet Indonesia/M Najib

CIANJUR | MAGNETINDONESIA.CO – Perajin gula merah di Desa Malati, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, mengeluh berlipatnya biaya produksi pascapenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Utamanya biaya transportasi yang semakin membengkak.

“Tengkulak gula merah ngangkat dari petani hanya Rp8 ribu per kilogram. Sedangkan biaya angkut bahan bakar kayu saja satu truk sudah mencapai Rp200 ribu,” ujar Suryaman (40), perajin gula aren kepada magnetindonesia.co, Kamis (5/7/2018).

Naiknya biaya operasional tak dibarengi naiknya harga jual. Padahal di sisi lain pesanan gula aren dari sejumlah daerah terus meningkat.

“Pernah naik mencapai Rp12 ribu per kilogram pas menjelang Lebaran. Tapi itu hanya sebentar. Sekarang turunnya sangat drastis,” keluh Suryaman.

Abdul (52), perajin gula merah lainnnya, mengaku sejatinya harga gula merah naik karena biaya operasional juga naik akibat dampak penaikan harga BBM.

“Kalau harga pembelian tengkulak turun, otomotis keuntungan juga minim. Sudah untung bisa balik modal juga,” ucapnya.

Abdul berharap pemerintah bisa melirik para perajin gula merah agar bisa memaksimalkan harga di pasaran.

“Saya dan mewakili perajin gula merah di Desa Malati berharap agar pemerintah bisa membantu mengoptimalkan harga di pasaran sehingga tidak terancam gulung tukar,” harapnya.

Herli (40), tengkulak gula merah, menuturkan biasanya setelah Lebaran harga akan turun. Namun sekarang turunnya tak terkendali, sehingga berdampak terhadap kondisi para perajin.

“Beli dari perajin Rp8 ribu per kg. Sedangkan di pasaran diterima Rp9.500 per kg. Keuntungan Rp1.500 itu kotor karena harus menghitung biaya lainnya,” kata dia.

KontributorM Najib
EditorHafiz Nurachman