BIN Rangkul Eks Napiter Kembali ke Pangkuan NKRI

BADAN Intelijen Negara menggelar rapat bersama Forkopimda dalam rangka melaksanakan program deradikalisme terhadap eks narapidana teroris. Foto: Ist

JAKARTA | MAGNETINDONESIA.CO – Badan Intelijen Negara (BIN) memiliki program deradikalisasi. Program tersebut sebagai upaya menangkal aksi radikalisme dan terorisme. Program tersebut menyasar kalangan narapidana teroris (napiter) maupun eks napiter.

“Kegiatan deradikalisasi menjadi sangat penting dilakukan di tengah ancaman serangan narasi terorisme yang banyak menyebar lewat internet,” ujar Deputi Komunikasi dan Informasi BIN, Dr Wawan Hari Purwanto, dalam rilis yang diterima magnetindonesia.co, Senin (17/8/2020).

Proses deradikalisasi bertujuan untuk merehabilitasi dan mereintegrasi eks napiter kembali ke masyarakat. Program tersebut dilaksanakan secara terpadu oleh sejumlah kementerian dan lembaga terkait serta melibatkan partisipasi publik.

“Pada praktiknya, memang ada sejumlah kendala. Namun, program deradikalisme sangat berhasil. Bahkan, banyak eks napiter yang telah hidup normal. Bahkan ada juga yang menjadi duta antiterorisme,” ucapnya.

Menurut Wawan, BIN merupakan lini pertama dalam sistem keamanan nasional. Maka dari itu, BIN berkepentingan menjaga keamanan dan ketertiban nasional. Termasuk terlibat dalam proses rehabilitasi eks napiter agar kembali mengakui NKRI dan dapat kembali diterima masyarakat luas.

“Keberhasilan rehabilitasi mantan tahanan teroris memiliki arti penting bagi keamanan nasional maupun internasional. Rehabilitasi eks napiter merupakan upaya memanusiakan manusia, sekaligus memberikan kesempatan kedua untuk menebus kesalahannya di masa lalu,” ungkapnya.

Bersama dengan instansi negara lainnya, BIN bekerja keras melakukan rehabilitasi terhadap eks napiter. Salah satu keberhasilan deradikalisasi BIN tampak dari sosok Paimin.

Pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, itu dulu ditangkap akibat berencana meracuni polisi bersama kelompok yang dipimpinnya. Sementara Priyatmo alias Mamo, merupakan eks napiter yang menjalani hukuman lima tahun penjara atas kepemilikan senjata yang diselundupkan dari Filipina ke Indonesia.

“Meski memiliki latar belakang kasus terorisme dan kelompok yang berbeda, baik Paimin, Priyatmo, dan eks napiter lainnya telah sama-sama kembali kepada pangkuan NKRI. Mereka mengambil kesempatan kedua yang dimiliki untuk menebus kesalahan masa lalunya,” terangnya

Semuanya kini fokus memperbaiki taraf perekonomian keluarga masing-masing maupun lingkungan sekitar rumah. Tentu saja dengan berbagai kegiatan positif. Bahkan, Priyatmo menjadi ketua kelompok tani ikan di lingkungan tempat tinggalnya.

“Mereka rutin mengadakan pelatihan budi daya ikan secara mandiri, termasuk dalam membuat pakan ikan agar mendapat keuntungan maksimal saat panen tiba,” bebernya.

Penanganan radikalisme harus dapat dilaksanakan dari hulu hingga hilir dan melibatkan semua pihak. Selain pemerintah, masyarakat juga perlu berperan aktif untuk menerima kembali para eks napiter.

“Mengucilkan eks napiter dan para keluarganya justru akan semakin membuat mereka masuk ke dalam lingkaran kekerasan dan dapat kembali menjadi teroris,” jelas Wawan.

Masyarakat diimbau untuk terus aktif menangkal radikalisme yang saat ini terus berkembang. Terutama di tengah pandemi Covid-19.

“Selain itu, semua pihak juga diharapkan mampu mengimplementasikan semangat toleransi, nilai-nilai kebangsaan dan konsep beragama sesuai tuntunannya masing-masing,” pungkasnya. (adv/rls)

Kontributor: Medi Ardiansyah
Editor: Raditya