Toserba Selamat Palabuhanratu Tak Hadiri Sidang Perdana Sengketa Konsumen di BPSK

SIDANG perdana sengketa konsumen yang digelar BPSK Kabupaten Sukabumi, Selasa (9/6/2020). Foto: Magnet Indonesia

SUKABUMI | MAGNETINDONESIA.CO – Tergugat I kasus sengketa konsumen atas nama Toserba Selamat Palabuhanratu tak menghadiri sidang perdana perkara gugatan konsumen di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Sukabumi. Majelis Hakim BPSK menyayangkan tidak hadirnya pihak tergugat.

“Padahal jadwal sidang sudah kami beritahukan kepada yang bersangkutan (pihak tergugat I),” kata Ketua Majelis Hakim Ronny M Samosir, di sela membuka sidang, Selasa (9/6/2020).

Kasus sengketa konsumen tersebut dilayangkan pihak penggugat Berly Lesmana q.q Dadang Aska melawan Toserba Selamat Palabuhanratu sebagai tergugat I dan salah satu perusahaan produk makanan terkenal sebagai tergugat II.

Kasus gugatan ini bermula saat Dadang Aska bersama anak kandungnya, Sera Maesawati Aska, membeli produk makanan bayi di Toserba Selamat Palabuhanratu pada Jumat (22/5/2020). Namun, saat kemasan produk makanan bayi itu dibuka dan diaduk dengan air panas di atas piring kecil, terlihat beberapa benda asing menyerupai kutu di makanan bayi tersebut.

Orang tua bayi pun merasa penasaran lalu mengecek kondisi kemasannya. Dugaan mereka benar, ternyata di dalam kemasan makanan bayi itu terdapat banyak binatang seperti kutu berwarna hitam yang masih hidup. Sementara makanan itu sempat diberikan kepada si bayi.

Tak terima produk makanan itu berkutu, kakek si bayi pun melayangkan gugatan kepada toko penjual dan produsen melalui BPSK Kabupaten Sukabumi. Mereka menggandeng Berly Lesmana dari Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Pandawa Lima selaku kuasa hukum penggugat.

Pada sidang perdana yang diketuai Majelis Hakim Ronny M Samosir dan Wakil Majelis Hakim Amirudin Rahman, SH serta panitera Supriyanto dengan perkara nomor: 005/G/BPSK.Kabsi/VI/2020 itu hanya dihadiri tergugat II yakni perusahaan produk makanan bayi yang diwakili Patmela Mayasari dan Etyk Sri Hartuti.

Dalam persidangan sengketa konsumen terungkap, pihak produsen telah melakukan uji laboratorium setelah mendapat keluhan dari konsumen. Hasilnya, makanan bayi itu tidak mengandung benda asing saat diproduksi, bahkan masa kedaluwarsa pun masih panjang. Namun diketahui pada kemasan dalamnya terdapat bekas gigitan rayap entah dari mana asalnya.

“Kami (hakim) sudah meminta keterangan dari produsen makanan mengenai produknya yang berkutu. Pada sidang pertama ini kami belum bisa menyimpulkan, karena pihak tergugat I tidak hadir,” ungkap Ronny.

Sidang kedua akan dilanjutkan pada Jumat (12/6/2020) mendatang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi korban, saksi ahli gizi, serta pihak tergugat I dan II.

Kontributor: Medi Ardiansyah
Editor: Hafiz Nurachman