Tak Sejalan, Presidium SOS Indonesia Cabut Dukungan untuk PSI

Logo SOS Indonesia

CIANJUR | MAGNETINDONESIA.CO – Solidaritas Senyap (SOS) Indonesia, organ eksponen aktivis 1998, menarik dukungan politiknya dalam mengawal eksistensi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menuju Pemilu 2019. Penegasan itu menyusul tidak lagi terdapatnya persamaan persepsi dalam proses pendampingan perjuangan PSI.

“Karena sudah tidak sejalan lagi, maka kami Presidium SOS Indonesia mencabut dukungan politik dalam mengawal PSI menjelang Pemilu 2019,” tegas Ketua Presidium SOS Indonesia, Muhammad Asep NK, saat berlangsungnya evaluasi internal Presidium SOS Indonesia bersama sejumlah eksponen 1998 dari berbagai wilayah di Indonesia, di salah satu rumah makan di kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Sabtu (6/10/2018).

Asep mengatakan, pada dasarnya SOS Indonesia merupakan kekuatan eksternal PSI. SOS Indonesia merupakan presidium yang hadir dengan maksud dan tujuan mengawal eksistensi PSI di kancah politik Indonesia menuju bursa Pemilu 2019.

“Berangkat atas semangat reformasi 1998, awalnya berharap gelora dan semangat juang kami 20 tahun lalu dapat memberikan support perjuangan bagi para politisi muda Indonesia yang bersih, terbuka, progresif, dan visioner bersama gerbong politik mereka yakni PSI. Apalagi sebagai parpol pendatang baru di kancah politik Indonesia, PSI tampil dengan mengusung jargon politik antikorupsi dan antiintoleransi. Itu menjadikan sebuah harapan baru bagi kami, khususnya rakyat dan bangsa ini,” ujarnya.

Bahkan bukti keseriusan dalam mengawal perjuangan PSI sesungguhnya, lanjut Asep, SOS Indonesia memberikan pendampingan bagi para calon legislatif PSI baik DPRD kabupaten/kota, provinsi, dan DPR RI di berbagai wilayah di Indonesia pada Pileg 2019.

“Permasalahannya hari ini, ternyata parpol yang menggadang-gadang solidaritas itu kini terkesan terkotak-kotak. Kami mengendus adanya indikasi dugaan yang terkesan melahirkan sebuah monarki di internal PSI itu sendiri,” sebut Asep.

Satu contohnya berkenaan kelompok caleg khusus (calegsus). Keberadaan calegsus ini dikhawatirkan akan menjadi sekat dengan caleg lainnya serta kriteria tentatif atau definitif bagi status kepemimpinan para kader di tingkat daerah. Bahkan tak menutup kemungkinan beberapa kebijakan PSI justru membuka peta konflik internal bagi kade di beberapa daerah.

“Kendati awalnya kami Presidium SOS Indonesia bertekad bersatu dan melangkah bersama perjuangan mereka agar ke depan PSI mampu melahirkan politisi bersih untuk bangsa ini, tetapi kenyataannya sekarang berbanding terbalik. Maka dengan segala hormat kami memilih mencabut dukungan saja,” ucapnya.

Bagi Presidium SOS Indonesia, tegas dia, mencabut dukungan saat ini bukan perihal untung dan rugi. Karena, bentuk dukungan mengawal eksistensi PSI menuju Pemilu 2019 semua itu diawali rasa solidaritas. Artinya, SOS Indonesia berharap solidaritas itu tidak dicemari tradisi politik oportunis, seperti halnya politik ‘bagi-bagi kue’ maupun ‘politik dagang sapi’.

“Tidak ada yang dirugikan. Toh sejak awal kami hanya memposisikan diri di eksternal PSI,” tandasnya.

Reporter:   Imam Mustofa
Editor:   Bondan Prakoso