Pangdam III/Siliwangi Apresiasi Sanggar Seni Lukis Jelekong

PANGDAM III/Siliwangi Mayjen TNI Besar Harto Karyawan, mengaku salut dengan karya seni lukis yang dihasilkan para pelukis di Jelekong. Magnet Indonesia/Agus Kris

BANDUNG | MAGNETINDONESIA.COPangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Besar Harto Karyawan, berkunjung ke Sanggar Seni Lukis Dwi Matra di Jalan Giri Harja, Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Senin (2/7/2018).

Kedatangannya ke sanggar yang dikelola Asep Sancang dan tokoh budaya setempat itu lantaran terus pesatnya perkembangan pelukis di Jelekong dari masa ke masa.

“Untuk pemasaran, biasanya dilakukan di Braga Bandung dan Jakarta hingga ke Arab Saudi. Sekarang pelukis di Jelekong bisa mengikuti perkembangan sesuai pesanan,” ujar pemilik Sanggar Seni Lukis Dwi Matra, Asep Sancang.

Sampai saat ini terdapat 600 pelukis aktif dari 800 orang pelukis yang ada di Jelekong. Sejak 1993 lukisan buatan Jelekong berkembang menjadi tiga tingkatan yaitu tingkat bawah dengan kanvas biasa tema pemandangan, tingkat menengah dengan tema menengah bunga dan orang, serta kelas atas dari segi bahan yaitu cat dan kanvas yang bagus sesuai permintaan.

Asep menjelaskan, Jelekong berasal dari kata ‘Jlek’ dan ‘Ngawangkong’ yang artinya tadinya tidak ada menjadi ada.

“Kunjungan Pangdam III/Siliwangi ke Jelekong tidak kami sangka-sangka. Tentu kami dan warga Jelekong merasa bangga atas kunjungan Pangdam,” tuturnya.

Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Besar Harto Karyawan mengapresiasi desa wisata Jelekong yang terkenal dengan lukisannya. Ia berharap potensi wisata budaya terus dipelihara yang tentunya menjadi tugas pemerintah.

“Ini dapat dijadikan kekuatan kesejahteraan wilayah,” kata Pangdam.

Pangdam mengaku pernah tinggal di Baleendah. Tapi ia tidak mengetahui adanya desa wisata.

“Baru tahu sekarang. Pemasarannya melalui internet. Kita angkat Jelekong ini dengan adanya perwakilannya di Bali agar hasil lukisan karya dari Jelekong diakui Bali. Ini adalah tugas pemerintah,” jelasnya.

Untuk pamasaran di Bandung, kata dia, akan dibuat kios-kios kecil di tempat wisata. Upaya itu untuk memudahkan. Selain dipajang, juga dibuat album dan nomornya sehingga tidak memakan tempat.

“Cara pemasarannya dengan membuat katalog lukisan di internet, nama pelukis dan harganya. Yang harus kita lakukan di zaman modern ini adalah informasikan karya-karya kita keluar. Jangan hanya karya kita dikenal pada saat sudah meninggal. Saya yakin dan percaya pelukis tanpa ada petunjuk dalam pikirannya tidak dapat menuangkan suatu lukisan,” ujarnya.

ReporterAgus Kris
EditorEddy Surya Wijaya