Teroris ‘Sekap’ Wakil Bupati Sukabumi di Gedung Pendopo Palabuhanratu

WAKIL Bupati Sukabumi, Adjo Sardjono, diselamatkan pasukan Gultor dari Yonif Raider 300/Cianjur, setelah disekap teroris di Gedung Pendopo Palabuhanratu. Magnet Indonesia Online/Bubun Paksi JD

SUKABUMI | MAGNETINDONESIA.CO – Wakil Bupati Sukabumi, Adjo Sardjono, ‘disekap’ teroris bersenjata jenis SS2V4 dan K7Daewoo di Gedung Negara Pendopo Palabuhanratu, Rabu (26/9/2018).

Suasana cukup panik karena terdengar suara tembakan dan ledakan cukup keras. Saat itu, di dalam Pendopo tengah berlangsung rapat koordinasi persiapan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi yang diikuti 15 pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) dan perwakilan kecamatan.

Selang beberapa waktu kemudian, sejumlah pasukan Gulung Teroris (Gultor) Batalyon Infanteri Raider 300/Cianjur, mengepung Gedung Negara Pendopo Palabuhanratu. Tak lama, pasukan Gultor menyelamatkan sandera. Aksi pembebasan sandera hanya bagian dari simulasi latihan pemeliharaan kemampuan pasukan Raider khususnya pasukan Gultor dalam menangani aksi terorisme.

“Ini merupakan kegiatan rutin setiap tahun yang dilakukan di seluruh wilayah Jawa Barat,” ujar Komandan Yonif Raider 300/Cianjur, Mayor Ary Sutrisno, melalui Pasi Intel, Lettu Inf Andhika Febriansyah, kepada Magnet Indonesia Online.

Pemilihan tempat pelatihan di Palabuhanratu didasari pertimbangan karena memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi. Apalagi dengan karakteristik masyarakat yang majemuk.

“Jika nanti ada kejadian serupa di sini, kami sudah paham tentang situasi dan kondisi,” kata Andhika.

Wakil Bupati Sukabumi, Adjo Sardjono, mengaku sebelumnya tak mengetahui skenario drama penyekapan tersebut.

“Saya baru dikasih tahu pagi tadi,” ucap dia.

Meskipun itu hanya kegiatan latihan simulasi, Adjo mengaku panik. Apalagi terdengar suara tembakan beberapa kali.

“Tetap saja jantungan ya. Apalagi peserta rapat sama sekali tidak tahu akan ada aksi penyanderaan seperti ini,” paparnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga (Budpora) Kabupaten Sukabumi, Iwan Kusdian, mengaku sempat deg-degan. Ia tak bisa menutupi rasa takutnya saat terjadi penyekapan.

“Kabag Humas (Risbandi) dibawa ke belakang lalu dieksekusi teroris. Tapi meski itu bagian dari skenario drama penyekapan, jantung saya serasa mau copot,” singkatnya. (adv)

Reporter:   Bubun Paksi JD
EditorSulaeman