“Sekarang warga merasa terbantu dengan adanya perahu karet. Namun risikonya sangat tinggi apabila sedang turun hujan. Saya justru memikirkan nasib dan keselamatan warga, karena khawatir terjadi sesuatu disaat menyeberang pas kondisi cuacanya sedang buruk dan air sungai deras. Itu yang saya khawatirkan,” tuturnya.
Salah satu warga Desa Tanjungsari, Popi mengaku sejak jembatan gantung rusak hampir setiap hari mengantar anaknya sekolah di wilayah Kecamatan Gunungguruh dengan menyeberangi sungai menggunakan perahu karet. Namun saat air sungai meluap, terpaksa mencari jalan alternatif yang cukup jauh.
“Kalau menggunakan jalan alternatif, harus memutar arah dan jaraknya lumayan jauh atau tiga kali lipat dari akses jembatan penyeberangan yang rusak,” ungkap Popi.
Jika air sungai meluap, kadang Popi dan warga lainnya memanfaatkan akses satu-satunya yaitu melalui area perusahaan produsen semen SCG. Sebab pihak perusahaan sudah memberikan dispensasi atau izin melintas bagi warga Desa Tanjungsari yang sedang beraktivitas di Kecamatan Gunungguruh maupun Kecamatan Cikembar atau sekadar mengantar anak-anak ke sekolah.
‎Reporter: Iqbal Salim
‎Editor: Rian Munajat









