Ia meminta kehadiran para mahasiswa di lapangan dapat memberikan dampak positif sekaligus inovasi bagi pembangunan desa. Termasuk menjadi agen perubahan, menghormati nilai-nilai sosial, budaya dan kearifan lokal, serta menjunjung tinggi etika saat melaksanakan KKN.
“Jaga nama baik almamater, tunjukkan kedisiplinan, serta manfaatkan momen KKN sebagai sarana untuk mengasah kepemimpinan dan empati sosial. Pengalaman KKN adalah bekal berharga dalam meningkatkan kompetensi serta memperluas wawasan sehingga kelak menjadi generasi yang mampu memberikan kontribusi terbaik bagi daerah, bangsa, dan negara,” bebernya.
Ketua LPPM UMMI, Dr Jujun Ratnasari, memaparkan bahwa KKN tahun ini merupakan bagian integral dari kurikulum wajib mahasiswa semester enam. Program ini bertujuan melatih keterampilan bersosialisasi dan penyelesaian masalah di lapangan.
“Mahasiswa juga harus menghasilkan output berupa laporan akhir, press release, dan video pengabdian yang akan dilombakan hingga ke tingkat provinsi,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang AIK, Dr Asep Muhamad Ramdan, menegaskan pentingnya menjaga nama baik kampus. Apalagi KKN bukan melancong atau liburan, tapi kembali kepada masyarakat, memberikan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan.
“Secara akademik mereka (mahasiswa) sudah mendapatkan. Silakan berkolaborasi dengan masyarakat,” pungkasnya. (adv)
Reporter:Â Jey Sidik
Editor:Â Rian Munajat













