Matan dan Ponpes Al-Muhajirin 3 Purwakarta Diskusi Tangkal Radikalisme dan Ekstremisme

PARA peserta diskusi interaktif serius mengikuti pemaparan dari sejumla narasumber.Foto: Ist

“Kaum milenial merupakan generasi harapan bangsa. Jika kaum muda dari sekarang tidak diingatkan untuk hal-hal positif, maka bisa rawan terbawa arus yang membuat negara ini rusak. Kami Berharap kaum milenial Indonesia, khususnya Purwakarta, tidak terkontaminasi hal-hal negatif yang dapat merusak bangsa dan negara,” tegasnya.

Pengasuh Ponpes Almuhajirin 1, KH Marfu Muhyidin Ilyas, menjelaskan Islam melekat dengan Rasulullah SAW. Karena Rasulullah adalah rahmatan lil alamin, maka otomatis Islam adalah rahmatan lilalamin.

(Baca Juga: PW Muhammadiyah Jabar: Radikalisme Muncul Akibat Ekonomi Sosial dan Ketidakadilan)

“Yang dimaksud Alquran pada Surat Al-Anbiya Ayat 107, yang menjadi rahmat bagi semesta alam adalah diri Rasulullah. Jika ada pihak yang memperkenalkan Islam dengan cara-cara yang tidak baik (tidak rahmatan lil alamin), tidak seperti yang dicontohkan Rasulullah, maka patut dipertanyakan,” jelas dia.

BACA JUGA   Pemkab Sukabumi Terima Penghargaan Pencapaian Swasembada Pangan Nasional 2025

Ia menuturkan Rasulullah SAW selalu mengedepankan kasih sayang sekalipun kepada yang membencinya. Sikap buruk orang dianggap sebagai ketidaktahuan orang. Di manapun dan kapanpun, Rasulullah SAW selalu menebar kasih sayang.

“Itu yang dilaksanakan Nabi. Kata Imam Nawawi, dakwah itu harus lemah lembut, santun sesuai apa yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ajaran Islam yang paling bisa digunakan menangkal radikalsme itu adalah tasawuf. Jantungnya tasawuf adalah rahmatan lil alamin. Sudut pandang hakikat tasawuf adalah melihat ke dalam, bukan pada cangkang atau kemasan. Inilah yang bisa membawa kita tidak bersikap radikal, tidak kasar kepada orang lain,” jelasnya.

Add New Playlist