“Menang atau kalah dalam perlombaan ini bukan hal utama, melainkan bagaimana masyarakat menyambut Hari Raya Idulfitri dengan hati yang suci dan penuh suka cita,” jelasnya.
Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali, menambahkan, suara bedug yang dipukul dengan rampak mencerminkan kekompakan, gotong royong, serta keharmonisan masyarakat Kabupaten Sukabumi. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari syiar Islam yang hidup dalam budaya masyarakat.
“Kami apresiasi lomba pukul bedug. Ini salah satu kegiatan untuk mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus mendukung terwujudnya visi Kabupaten Sukabumi Mubarakah. Ke depan tradisi ngadulag tidak hanya dilestarikan, tetapi juga semakin dicintai generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya dan syiar Islam di daerah,” jelasnya.
Dalam perlombaan tersebut, setiap tim terdiri dari lima orang. Mereka menampilkan kolaborasi pukulan dua bedug, dua kokol, dan satu vokal. Penilaian dilakukan berdasarkan kreativitas, kerapian, keharmonisan nada, serta kekuatan unsur takbir yang tetap menjadi ruh utama pertunjukan.
Adapun hasil akhir perlombaan, Kecamatan Gunungguruh berhasil meraih juara pertama, disusul Kalapanunggal di posisi kedua dan Cireunghas di posisi ketiga. Sementara juara harapan diraih Kecamatan Palabuhanratu, Cisaat, dan Nagrak. (adv)
Reporter:Â Nugraha
‎Editor: Rian Munajat‎














