Tangis Keluarga Pecah saat Sambut Kedatangan Jenazah Almarhum Anang

JENAZAH almarhum Anang, tokoh masyarakat Desa Cibuntu, Kecamatan Simpenan, diturunkan dari mobil ambulans yang akan disemayamkan di rumah duka. Magnet Indonesia/Indra Sopyan

SUKABUMI | MAGNETINDONESIA.CO – Kedatangan jenazah Anang, tokoh masyarakat Desa Cibuntu, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, disambut tangisan histeris keluarga dan warga setempat, Minggu (3/3/2019) dini hari.

Anang merupakan korban terseret arus Sungai Cimandiri saat hendak menyeberang menggunakan ban sejak tiga hari lalu. Jasadnya ditemukan mengambang di perairan Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Sabtu (2/3/2019).

Pantauan di lokasi, mobil ambulans milik RSUD Jampangkulon yang membawa jenazah Anang tiba di rumah duka di Kampung Tangkolo RT 26/06, Desa Cibuntu, sekitar pukul 01.45 WIB. Setibanya mobil jenazah tersebut, tangisan dari istri, anak, dan cucu almarhum pun pecah. Bahkan keluarga almarhum tak sadarkan diri saat melihat jenazah sudah memakai kain kafan.

“Sekarang (dini hari) juga jenazah almarhum Pak Anang langsung dimakamkan. Pihak keluarga sudah ikhlas dan menerimanya karena ini adalah takdir dari Allah SWT,” ungkap Kepala Desa Cibuntu, Unang alias Dodi Setiawan, kepada magnetindonesia.co.

Dodi mengatakan, almarhum merupakan tokoh agama dan masyarakat Desa Cibuntu yang disegani dan jadi panutan seluruh warganya.

“Kami atas nama pemerintah Desa Cibuntu, mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga amal ibadah, iman, dan Islam almarhum semasa hidup diterima Allah SWT serta mendapat tempat layak di sisi-Nya. Pun keluarga yang ditinggalkan agar diberikan ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan lahir batin,” ucap Dodi.

Ilah (60) istri almarhum Anang mengaku, tak menyangka suaminya begitu cepat meninggalkan keluarga tercintanya. Ia berharap musibah yang dialami suaminya itu tidak terjadi lagi di kemudian hari kepada warga lainnya terutama warga desa setempat.

“Saya sudah ikhlaskan bapak pergi untuk selama-lamanya. Mudah-mudahan kejadian yang dialami suami saya tidak terulang kembali kepada warga di sini,” kata Ilah seraya berlinang air mata menahan kesedihannya.

Reporter:   Indra Sopyan
Editor:   Eddy Surya Wijaya